Tips dan Trik Bisnis Internet, gratis...

Klub Bisnis Internet Berorientasi Action

Sabtu, 03 Maret 2012

Air Layering (Cangkok) pada Tanaman

 


Air Layering (Cangkok) 

 Pencangkokan adalah salah satu tipe perundukan, dimana akar terbentuk pada bagian tanaman yang masih berada di tanaman induknya. Pada perundukan tipe ini batang tanaman di kerat dan dibungkus dengan tanah. Batang tanaman akan dibiarkan selama beberapa minggu sampai membentuk akar.


Gambar 1. Perundukan dengan cara cangkok


Gambar 3 Perundukan tunggal (Simple Layering)


Perundukan tunggal dilakukan dengan cara membengkokkan sebuah cabang ke tanah, sebelumnya batang tersebut dilukai kemudian dimasukkan ke tanah dan ditutup dengan tanah atau media pengakaran, tetapi ujung terminal berada diatas tanah. Ujung dari cabang secara tajam dibengkokkan ke posisi tegak sekitar 6 sampai 10 cm jaraknya dari ujung. Pembengkokan yang tajam dari pucuk tersebut sangat penting untuk menginduksi pengakaran, meskipun manfaat tambahan dapat diperoleh dengan cara pemuntiran untuk melonggarkan kulit kayu. Pemotongan atau sedikit pelukaan di bagian bawah dari batang sering dilakukan. Metode lain yaitu, bagian yang bengkok dari pucuk selanjutnya disisipkan ke dalam tanah sehingga dapat ditutup pada kedalaman 3 sampai 6 cm. Pasak kayu, kawat yang dibengkokkan atau batu dapat digunakan untuk menjaga rundukan di tempatnya dan ajir kayu vertikal dapat ditancapkan di samping rundukan untuk menopang pucuk yang terekspose dan memegangnya tegak. Jika cabang relatif tidak lentur dan sulit untuk dibengkokkan, tegangan dapat dikurangi dengan cara melukai sedikit bagian atas dari pucuk pada bagian tertinggi dari bengkokan Waktu yang umum untuk perundukan adalah awal musim hujan, dan digunakan pucuk berumur satu tahun. Dipilih cabang-cabang yang rendah dan lentur dari tanaman yang dapat dengan mudah dibengkokkan ke tanah. Dalam beberapa hal cabang samping (suckers) yang dihasilkan di dekat mahkota tanaman dapat bertindak sebagai sumber pucuk untuk perundukan. Pengadaan rundukan berakar dapat dilakukan bertahun-tahun dengan cara membuat bedengan yang terdiri dari tanaman stock yang ditanam dengan jarak yang cukup lebar sehingga memungkinkan semua pucuk dirundukkan. Prosedur ini telah digunakan secara komersial untuk memperbanyak tanaman strawberry dan blackberry di Lembang dan Malang. Hasil penelitian Purba et al. (2017), perundukan pada tanaman Mucuna bracteata, dengan beberapa cara merunduk, merunduk 1 kali, 2 kali, 3 kali dan 4 kali, diatas maupun dibawah tanah tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan, jumlah bintil akar dan berta kering akar.

Perundukan Ujung Pucuk (Tip Layering) 
Pada tip layering, pengakaran terjadi di ujung pucuk yang dilukai dan dibengkokkan ke tanah. Ujung pucuk ditimbun dengan tanah, dijaga kelembabanya, dibiarkan beberapa minggu sampai keluar akar pada ujung pucuk yang dibenamkan tersebut. Setelah berakar, ujung pucuk dapat dipotong untuk ditanam menjadi tanaman mandiri.
Gambar 4 Perundukan pucuk (Tip Layering) (Rosie dan Dana, 1996) 


Ujung pucuk lateral lebih baik dirundukkan dengan tangan, sekop kecil digunakan untuk membuat lubang dengan satu sisi vertikal dan sisi lainnya miring ke arah tanaman induk. Ujung pucuk ditempatkan di dalam lubang dengan pucuk terletak sepanjang sisi miring dan tanah yang ditutupkan ditekan cukup padat. Dengan demikian ujung tidak dapat terus tumbuh memanjang dan menjadi seperti bentuk teleskop (telescoped) dan segera membentuk sistem perakaran yang banyak serta mengembangkan pucuk vertikal muda. Dengan cara ini hanya satu individu baru yang dihasilkan dari satu cabang. 
Ujung pucuk lateral lebih baik dirundukkan dengan tangan, sekop kecil digunakan untuk membuat lubang dengan satu sisi vertikal dan sisi lainnya miring ke arah tanaman induk. Ujung pucuk ditempatkan di dalam lubang dengan pucuk terletak sepanjang sisi miring dan tanah yang ditutupkan ditekan cukup padat. Dengan demikian ujung tidak dapat terus tumbuh memanjang dan menjadi seperti bentuk teleskop (telescoped) dan segera membentuk sistem perakaran yang banyak serta mengembangkan pucuk vertikal muda. Dengan cara ini hanya satu individu baru yang dihasilkan dari satu cabang. 
 
Perundukan Berganda (Compound or Serpentine Layering) 
Perundukan berganda prinsipnya sama seperti perundukan tunggal, pada perundukan berganda lebih dari satu titik tumbuh yang dibengkokkan kedalam tanah. Namun untuk perundukan berganda pada setiap bagian yang dibenamkan ke tanah harus mempunyai titik tumbuh di atasnya untuk membentuk tunas baru apabila sudah berakar dan siapkan dipisahkan dari induknya. Pada suatu cabang yang panjang hanya beberapa tempat di satu cabang yang ditutup tanah. Penutupan tanh berselang-seling, ada yang ditutup, ada yang dibiarkan pucuknya di atas tanah tidak ditutup. Setelah beberapa minggu cabang yang berada diatas tanah akan memunculkan tunas baru, sementara bagian yang ditutup tanah akan memunculkan akar baru. Umumnya, batang dilukai atau dikerat di bagian bawah dan ditutup dengan tanah seperti pada perundukan tunggal. Akar berkembang pada setiap bagian yang dibenamkan ini. Bagian yang dilukai dan dibenamkan kedalam tanah dari batang tersebut paling sedikit mengandung satu titik tunas yang akan berkembang menjadi pucuk. Setelah terbentuk akar, cabang tersebut dipotong pada bagian yang mempunyai pucuk baru dan mengandung akar baru. Beberapa tanaman baru dapat dihasilkan dari satu cabang. Metode ini digunakan untuk memperbanyak tanaman yang mempunyai pucuk panjang dan batang fleksibel seperti anggur.
Gambar 5 Perundukan Berganda (Compound or Serpentine Layering) 



Hasil penelitian Sumarni dan Jamal (2008), menunjukkan penggunaan metode pembiakan vegetative dengan merunduk, pada Piper miniatum pada ruas/ buku batang tua (R3) dengan media sekam menunjukkan waktu yang lebih cepat untuk tumbuh akar 2-4 minggu bila dibandingkan dengan cara setek dan cangkok. Kelebihan lainnya dengan merunduk adalah tidak memerlukan masa aklimatisasi untuk menjadi bibit.


Perundukan Horizontal (Trench Layering) 
 Perundukan horizontal atau larikan/parit adalah perundukan dengan merebahkan dan membenamkan cabang dengan posisi secara horizontal pada larikan tanah atau lubang yang dibuat memanjang (trench : parit kecil), rundukan cabang didasar lubang. Cabang yang berada didalam tanah dilukai untuk merangsang tumbuhnya akar dari dasar pucuk teretiolasi. Akar berkembang dari dasar pucuk baru ini. Pucuk cabang dengan beberapa lembar daun dibiarkan di atas permukaan tanah. Dari beberapa ruas cabang yang dibenamkan akan muncul tunas baru. Pada daerah empat musim (subtropis), ini dilakukan sebelum mulai pertumbuhan di musim semi. Tanaman dibengkokkan batangnya dan diletakkan mendatar pada dasar dari parit yang digali sepanjang barisan sedalam 6 cm dan cukup lebar untuk keseluruhan rundukan. Cabang-cabang lateral yang lemah dipotong sepanjang 2 cm dan cabang lateral yang kuat dipotong ujungnya. Pasak kayu dapat digunakan untuk menahan tanaman rundukan induk di tempatnya. Kawat pendek yang dibengkokkan berbentuk huruf U atau kawat yang lebih panjang seperti gantungan baju, bermanfaat untuk memegang pucuk-pucuk yang kecil. Adalah penting bahwa semua bagian dari pucuk mendatar sempurna pada dasar parit. Sebelum semua rundukan ditutup dengan tanah halus 5 cm atau media pengakaran seperti moss gambut, serbuk gergaji atau serutan kayu. 2 cm media tambahan ditambahkan pada saat pucuk yang sedang berkembang muncul dari lapisan tanah yang pertama tetapi sebelum daunnya mengembang. Beberapa tanah tambahan diberikan pada 2-3 minggu pertama dari Pengeratan dasar dari pucuk dengan cara mengikatkan kawat sekitar 6 minggu setelah mulai tumbuh akan memacu pengakaran pada banyak tunas tanaman. Ukuran sistem perakaran tanaman apel hasil penggundukan meningkat pada pucuk yang tumbuh.
Gambar 7 Perundukan dengan cara Gundukan (Mound atau Stool Layering) 






Minggu, 27 Maret 2011

Budidaya Buah durian

D U R I A N
( Bombaceae sp. )


1. SEJARAH SINGKAT
Durian merupakan tanaman buah berupa pohon. Sebutan durian diduga berasal dari istilah Melayu yaitu dari kata duri yang diberi akhiran -an sehingga menjadi durian. Kata ini terutama dipergunakan untuk menyebut buah yang kulitnya berduri tajam.
Tanaman durian berasal dari hutan Malaysia, Sumatra, dan Kalimantan yang berupa tanaman liar. Penyebaran durian ke arah Barat adalah ke Thailand, Birma, India dan Pakistan. Buah durian sudah dikenal di Asia Tenggara sejak abad 7 M. Nama lain durian adalah duren (Jawa, Gayo), duriang (Manado), dulian (Toraja), rulen (Seram Timur).

2. JENIS TANAMAN
Tanaman durian termasuk famili Bombaceae sebangsa pohon kapuk-kapukan. Yang lazim disebut durian adalah tumbuhan dari marga (genus) Durio, Nesia, Lahia, Boschia dan Coelostegia. Ada puluhan durian yang diakui keunggulannya oleh Menteri Pertanian dan disebarluaskan kepada masyarakat untuk dikembangkan. Macam varietas durian tersebut adalah: durian sukun (Jawa Tengah), petruk (Jawa Tengah), sitokong (Betawi), simas (Bogor), sunan (Jepara), otong (Thailand), kani (Thailand), sidodol (Kalimantan Selatan), sijapang (Betawi) dan sihijau (Kalimantan Selatan).

Jumat, 25 Maret 2011

Budidaya Buah Naga

Pengenalan
Buah Naga ialah tanaman baru yang belum dibudidayakan sepenuhnya di negara kita. Namun demikian, penanaman buah naga mula mendapat perhatian dan sambutan hangat karena buah ini mengandung khasiat yang tinggi dibanding buah lain. Buah naga berasal dari negara-negara Amerika Latin yaitu Chile, Argentina, Peru, dan Mexico. Buah ini di bawa ke Vietnam sebagai tanaman hiasan yang kemudiannya ditanam secara besar-besaran setelah mengetahui rasa dan manfaat buahnya. Kini Vietnam telah menjadi sumber penghasil dan pengeksport utama dunia untuk buah naga.
Keuntungan budidaya Buah Naga
  1. Sejenis buah asli yang tidak memerlukan racun serangga.
  2. Albumen mengeluarkan toksik dan mengalir keluar lebihan galian.
  3. Anthocyanin membebaskan radikal dan memperlambatk proses penuaan.
  4. Vitamin C mencantik dan menjadikan kulit kelihatan lebih cerah.
  5. Pengurangan berat badan karena buah naga kaya serat yang mudah larut.
  6. Sebagai obat bagi penyakit diabetes (kencing manis).
  7. Mencegah penyakit kanser usus besar. Mempercepat proses pembuangan air besar.
Keseluruhannya, buah ini baik untuk kesehatan dan keperluan harian. Ini telah dibuktikan melalui analisis pemakanan yang dilakukan oleh "Taiwan Food Industry Develop & Research Authorities".

Kamis, 25 Maret 2010

Budidaya Buah Anggur

Anggur
( Vitis )



 

1. SEJARAH SINGKAT
Anggur merupakan tanaman buah berupa perrdu yang merambat. Anggur berasal dari Armenia, tetapi budidaya anggur sudah dikembangkan di Timur Tengah sejak 4000 SM. Sedangkan teknologi pengolahan anggur menjadi wine pertama kali dikembangkan orang Mesir pada 2500 SM. Dari Mesir budidaya dan teknologi pengolahan anggur masuk ke Yunani dan menyebar ke daerah Laut Hitam sampai Spanyol, Jerman, Prancis dan Austria. Sejalan dengan perjalanan Columbus anggur dari asalnya ini mulai menyebar ke Mexico, Amerika Selatan, Afrika selatan, Asia termasuk Indonesia dan Australia. Penyebaran ini juga menjadikan Anggur punya beberapa sebutan seperti Grape di Eropa dan Amerika, orang China menyebut Pu tao dan di Indonesia disebut anggur.

Sabtu, 06 Maret 2010

Budidaya tanaman singkong

 Ubi kayu / ketela pohon / singkong / bodin / jendal






Klasifikasi tanaman ubi kayu adalah sebagai berikut :

• Kingdom : Plantae atau tumbuh-tumbuhan 

• Divisi : Spermatophyta atau tumbuhan berbiji 

• Sub divisi : Angiospermae atau berbiji tertutup 

• Kelas : Dicotyledoneae atau biji berkeping dua 

• Ordo : Euphorbiales 

• Famili : Euphorbiaceae 

• Genus : Manihot 

• Spesies : Manihot utilissima, Pohl.; Manihot esculenta, Crantz sin.


SYARAT PERTUMBUHAN

1. Iklim

a. Curah hujan yang sesuai untuk tanaman ketela pohon antara 1.500-2.500 mm/tahun. 
b. Suhu udara minimal bagi tumbuhnya ketela kohon sekitar 10 derajat C. Bila suhunya di bawah 10 derajat C menyebabkan pertumbuhan tanaman sedikit terhambat, menjadi kerdil karena pertumbuhan bunga yang kurang sempurna. 
c. Kelembaban udara optimal untuk tanaman ketela pohon antara 60-65%. 
d. Sinar matahari yang dibutuhkan bagi tanaman ketela pohon sekitar 10 jam/hari terutama untuk kesuburan daun dan perkembangan umbinya


2. Media Tanam 

a. Tanah yang paling sesuai untuk ketela pohon adalah tanah yang berstruktur remah, gembur, tidak terlalu liat dan tidak terlalu poros serta kaya bahan organik. Tanah dengan struktur remah mempunyai tata udara yang baik, unsur hara lebih mudah tersedia dan mudah diolah. Untuk pertumbuhan tanaman ketela pohon yang lebih baik, tanah harus subur dan kaya bahan organik baik unsur makro maupun mikronya. 

b. Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman ketela pohon adalah jenis aluvial latosol, podsolik merah kuning, mediteran, grumosol dan andosol. 

c. Derajat keasaman (pH) tanah yang sesuai untuk budidaya ketela pohon berkisar antara 4,5-8,0 dengan pH ideal 5,8. Pada umumnya tanah di Indonesia ber-pH rendah (asam), yaitu berkisar 4,0-5,5, sehingga seringkali dikatakan cukup netral bagi suburnya tanaman ketela pohon.

3. Ketinggian Tempat

• Ketinggian tempat yang baik dan ideal untuk tanaman ketela pohon antara 10–700 m dpl, sedangkan toleransinya antara 10–1.500 m dpl. 

 • Jenis ketela pohon tertentu dapat ditanam pada ketinggian tempat tertentu untuk dapat tumbuh optimal.




PEDOMAN BUDIDAYA 

1. Persyaratan Bibit 

Bibit yang baik untuk bertanam ketela pohon harus memenuhi syarat sebagai berikut: 

• Ketela pohon berasal dari tanaman induk yang cukup tua (10-12 bulan). 

• Ketela pohon harus dengan pertumbuhannya yang normal dan sehat serta seragam. 

• Batangnya telah berkayu dan berdiameter + 2,5 cm lurus. 

• Belum tumbuh tunas-tunas baru.


2. Penyiapan Bibit 

Penyiapan bibit ketela pohon meliputi hal-hal sebagai berikut: 

• Bibit berupa stek batang. 

• Sebagai stek pilih batang bagian bawah sampai tengah. 

• Setelah stek terpilih kemudian diikat, masing-masing ikatan berjumlah antara 25–30 batang stek. 

• Semua ikatan stek yang dibutuhkan, kemudian diangkut ke lokasi penanaman.


Pengolahan Media Tanam 

1. Persiapan 

Kegiatan yang perlu dilakukan sebelum pengolahan lahan adalah: 

• Pengukuran pH tanah dilakukan dengan menggunakan kertas lakmus, pH meter dan cairan pH tester. 

• Penganalisaan jenis tanah pada contoh atau sempel tanah yang akan ditanami untuk mengetahui ketersediaan unsur hara, kandungan bahan organik. 

• Penetapan jadwal/waktu tanam berkaitan erat dengan saat panen. Hal ini perlu diperhitungkan dengan asumsi waktu tanam bersamaan dengan tanamanlainnya (tumpang sari), sehingga sekaligus dapat memproduksi beberapa variasi tanaman yang sejenis. 

• Luas areal penanaman disesuaikan dengan modal dan kebutuhan setiap petani ketela pohon. Pengaturan volume produksi penting juga diperhitungkan karena berkaitan erat dengan perkiraan harga pada saat panen dan pasar. Apabila pada saat panen nantinya harga akan anjlok karena di daerah sentra penanaman terjadi panen raya maka volume produksi diatur seminimal mungkin


2. Pembukaan dan Pembersihan Lahan 

• Pembukaan lahan pada intinya merupakan pembersihan lahan dari segala macam gulma (tumbuhan pengganggu) dan akar-akar pertanaman sebelumnya. Tujuan pembersihan lahan untuk memudahkan perakaran tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan inang bagi hama dan penyakit yang mungkin ada. Pembajakan dilakukan dengan hewan ternak, seperti kerbau, sapi, atau pun dengan mesin traktor. 

• Pencangkulan dilakukan pada sisi-sisi yang sulit dijangkau, pada tanah tegalan yang arealnya relatif lebih sempit oleh alat bajak dan alat garu sampai tanah siap untuk ditanami.


3. Pembuatan Bedengan 

• Bedengan dibuat pada saat lahan sudah 70% dari tahap penyelesaian. Bedengan atau pelarikan dilakukan untuk memudahkan penanaman, sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. Pembentukan bedengan/ larikan ditujukan untuk memudahkan dalam pemeliharaan tanaman, seperti pembersihan tanaman liar maupun sehatnya pertumbuhan tanaman. 


4. Pengapuran 

• Untuk menaikkan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat sangat masam/tanah gembut, perlu dilakukan pengapuran. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur kalsit/kaptan (CaCO3). Dosis yang biasa digunakan untuk pengapuran adalah 1-2,5 ton/ha. Pengapuran diberikan pada waktu pembajakan atau pada saat pembentukan bedengan kasar bersamaan dengan pemberian pupuk kandang


Teknik Penanaman 

1. Penentuan Pola Tanam 

• Pola tanaman harus memperhatikan musim dan curah hujan. Pada lahan tegalan/kering, waktu tanam yang paling baik adalah awal musim hujan atau setelah penanaman padi. Jarak tanam yang umum digunakan pada pola monokultur ada beberapa alternatif, yaitu 100 X 100 cm, 100 X 60 cm atau 100 X 40 cm. Bila pola tanam dengan sistem tumpang sari bisa dengan jarak tanam 150 X 100 cm atau 300 X 150 cm. 

2. Cara Penanaman 

• Cara penanaman dilakukan dengan meruncingkan ujung bawah stek ketela pohon kemudian tanamkan sedalam 5-10 cm atau kurang lebih sepertiga bagian stek tertimbun tanah. Bila tanahnya keras/berat dan berair/lembab, stek ditanam dangkal saja.

Pemeliharaan Tanaman 

Penyulaman 

• Bibit yang mati/abnormal segera dilakukan penyulaman, yakni dengan cara mencabut dan diganti dengan bibit yang baru/cadangan. 

 • Bibit sulaman yang baik seharusnya juga merupakan tanaman yang sehat dan tepat waktu untuk ditanam. 

• Penyulaman dilakukan pada pagi hari atau sore hari, saat cuaca tidak terlalu panas. Waktu penyulaman adalah minggu pertama dan minggu kedua setelah penanaman. 

• penyulaman yang melewati minggu ketiga setelah penanaman mengakibatkan perbedaan pertumbuhan yang menyolok antara tanaman pertama dan tanaman sulaman


Penyiangan 

• Penyiangan bertujuan untuk membuang semua jenis rumput/ tanaman liar/pengganggu (gulma) yang hidup di sekitar tanaman. 

• Dalam satu musim penanaman minimal dilakukan 2 (dua) kali penyiangan. 


Pembubunan 

• Cara pembubunan dilakukan dengan menggemburkan tanah di sekitar tanaman dan setelah itu dibuat seperti guludan. Waktu pembubunan dapat bersamaan dengan waktu penyiangan, hal ini dapat menghemat biaya. 

• Apabila tanah sekitar tanaman singkong pohon terkikis karena hujan atau terkena air siraman sehingga perlu dilakukan pembubunan/di tutup dengan tanah agar akar tidak kelihatan


Perempalan/Pemangkasan 

• Pemangkasan/pembuangan tunas karena minimal setiap pohon harus mempunyai cabang 2 atau 3 cabang. 

• Hal ini agar batang pohon tersebut bisa digunakan sebagai bibit lagi di musim tanam mendatang. Pemupukan 

• Pemupukan dilakukan dengan sistem pemupukan berimbang antara N, P, K

 • Pupuk tersebut diberikan pada saat tanam dengan dosis N:P:K= 1/3 : 1 : 1/3 (pemupukan dasar) dan pada saat tanaman berumur 2-3 bulan yaitu sisanya dengan dosis N:P:K= 2/3 : 0 : 2/3


Pengairan dan Penyiraman 

• Kondisi lahan singkong pohon dari awal tanam sampai umur kurang lebih 4 hingga 5 bulan hendaknya selalu dalam keadaan lembab, tidak terlalu becek. Pada tanah yang kering perlu dilakukan penyiraman dan pengairan dari sumber air yang terdekat. 

• Pengairan dilakukan pada saat musim kering dengan cara menyiram langsung akan tetapi cara ini dapat merusak tanah. 

• Sistem yang baik digunakan adalah sistem genangan sehingga air dapat sampai ke daerah perakaran secara resapan. Pengairan dengan sistem genangan dapat dilakukan dua minggu sekali dan untuk seterusnya diberikan berdasarkan kebutuhan


Waktu Penyemprotan Pestisida 

• Jenis dan dosis pestisida disesuaikan dengan jenis penyakitnya. 

• Penyemprotan pestisida paling baik dilakukan pada pagi hari setelah embun hilang atau pada sore hari. • Dosis pestisida disesuaikan dengan serangan hama dan penyakit, baca dengan baik penggunaan dosis pada label merk obat yang digunakan. 

• Apabila hama dan penyakit menyerang dengan ganas maka dosis pestisida harus lebih akan tetapi penggunaannya harus hati-hati karena serangga yang menguntungkan dapat ikut mati


Hama Tanaman Singkong 

Uret

• Ciri: berada dalam akar dari tanaman. 

• Gejala: tanaman mati pada yg usia muda, karena akar batang dan umbi dirusak. 

• Pengendalian: bersihkan sisa-sisa bahan organik pada saat tanam dan atau mencampur sevin pada saat pengolahan lahan. 

Tungau Merah

• Ciri: menyerang pada permukaan bawah daun dengan menghisap cairan daun tersebut. 

• Gejala: daun akan menjadi kering. 

• Pengendalian:menanam varietas toleran dan menyemprotkan air yang banyak


Penyakit Tanaman Singkong 

a. Bercak daun Bakteri

• Penyebab: Xanthomonas manihotis atau Cassava Bacterial Blight/CBG . 

• Gejala: bercak-bercak bersudut pada daun lalu bergerak dan mengakibatkan pada daun kering dan akhirnya mati. 

• Pengendalian:menanam varietas yang tahan, memotong atau memusnahkan bagian tanaman yang sakit, melakukan pergiliran tanaman dan sanitasi kebun 

b. Layu bakteri

• Ciri: hidup di daun, akar dan batang. 

• Gejala: daun yang mendadak jadi layu seperti tersiram air panas. Akar, batang dan umbi langsung membusuk. 

• Pengendalian: melakukan pergiliran tanaman, menanam varietas yang tahan seperti Adira 1, Adira 2 dan Muara, melakukan pencabutan dan pemusnahan tanaman yang sakit berat

c. Bercak Daun Coklat

• Penyebab: jcendawan yang hidup di dalam daun. 

• Gejala: daun bercak-bercak coklat, mengering, lubang-lubang bulat kecil dan jaringan daun mati. 

• Pengendalian: melakukan pelebaran jarak tanam, penanaman varietas yang tahan, pemangkasan pada daun yang sakit serta melakukan sanitasi kebun. 

d. Bercak Daun Konsentris

• Penyebab: cendawan yang hidup pada daun. 

• Gejala: adanya bercak kecil dan titik-titik, terutama pada daun muda. 

• Pengendalian:memperlebar jarak tanam, mengadakan sanitasi kebun dan memangkas bagian tanaman yang sakit .


Gulma pada Tanaman Singkong 

• Khusus gulma dari golongan teki dapat di berantas dengan cara manual dengan penyiangan yang dilakukan 2-3 kali permusim tanam. Penyiangan dilakukan sampai akar tanaman tercabut. Secara kimiawi dengan penyemprotan herbisida seperti dari golongan 2,4-D-amin dan sulfonil urea. Penyemprotan harus dilakukan dengan hati-hati. • Jenis gulma lainnya adalah rerumputan yang banyak ditemukan di lubang penanaman maupun dalam got/parit. Jenis gulma rerumputan yang sering dijumpai yaitu jenis rumput belulang, rumput grintingan, dan rumput sunduk gangsir, tuton, rumput pahit. Pembasmian gulma dari golongan rerumputan dilakukan dengan cara manual yaitu penyiangan dan penyemprotan herbisida berspektrum sempit misalnya Rumpas 120 EW dengan konsentrasi 1,0-1,5 ml/liter.


PANEN SINGKONG 

Ciri dan Umur Panen 

• Ketela pohon dapat dipanen pada saat pertumbuhan daun bawah mulai berkurang. Warna daun mulai menguning dan banyak yang rontok. Umur panen tanaman ketela pohon telah mencapai 6–8 bulan untuk varietas Genjah dan 9–12 bulan untuk varietas dalam. Cara Panen 

• Ketela pohon dipanen dengan cara mencabut batangnya dan umbi yang tertinggal diambil dengan cangkul atau garpu tanah

Rabu, 03 Maret 2010

CARA MEMBUAT KOMPOS DI COMPOST BAG

 



Apa itu Composting?

Composting atau pengomposan adalah proses alami mendaur ulang bahan organik, seperti daun dan sisa makanan menjadi pupuk berharga yang dapat menyuburkan tanah dan tanaman. Berdasarkan data dari KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan), sampah yang tertimbun di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) 60% nya adalah sampah organik. Salah satu cara yang paling mudah dan sederhana yang bisa kita lakukan untuk membantu mengurangi jumlah sampah yang berakhir di TPA adalah dengan mengompos. Mengompos mungkin terdengar menakutkan atau merepotkan bagi sebagian orang, padahal nyatanya mengompos itu tidak serumit itu, loh.


Langkah-langkah Pengomposan Menggunakan Composting Bag

Berikut ini panduan dan langkah-langkah membuat kompos menggunakan composting bag: 

1. Siapkan Alat dan Bahan yang Diperlukan 

Hal yang paling penting dan utama, pastikan Anda memiliki semua alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat kompos, diantaranya yaitu composting bag, alat pengaduk berupa sekop kecil, serta sarung tangan. Selain itu, jangan lupa untuk menyiapkan sampah hijau dan sampah cokelat 

Peralatan mengompos yang perlu disiapkan 

Untuk sampah cokelat, Anda bisa menggunakan cacahan kayu, sekam padi, dedaunan kering, serta tanah. Sedangkan sampah hijau bisa menggunakan sampah sisa makanan, sayuran, dan buah. 

Contoh sampah cokelat dan sampah hijau

2. Buat Lapisan Kompos Pertama 

Setelah semua alat dan bahan siap, mulailah membuat kompos dengan meletakkan sampah cokelat sebagai lapisan pertama kompos. Idealnya, sampah cokelat yang digunakan ada tiga jenis, namun apabila hanya menggunakan dua jenis sampah cokelat juga tidak masalah

Sampah cokelat sebagai lapisan pertama dalam mengompos

Tambahkan Lapisan Kedua Lapisan berikutnya adalah sampah hijau seperti sisa makanan, daun segar, sisa buah dan sayur, serta ampas kopi dan teh. Sangat disarankan untuk memotong atau mencacah sampah sayur dan buah terlebih dahulu untuk mempermudah proses pengomposan.

Sampah hijau sebagai lapisan kedua dalam kompos
 

3. Ulangi Pelapisan Sampah Cokelat dan Sampah Hijau 

Tambahkan lapisan sampah cokelat lagi diatas sampah hijau yang sudah diletakkan. Pastikan sampah cokelatnya menutupi sampah hijau dibawahnya. 

Komposisi sampah hijau dan sampah cokelat di dalam composting bag

5. Rawat Kompos hingga Waktu Panen 

Aduk kompos setiap 3 sampai 7 hari sekali. Semakin besar atau banyak kompos yan dibuat, maka semakin sering diaduk guna menambahkan oksigen ke dalam kompos. Jika kompos terlihat terlalu kering, tambahkan sedikit air atau cairan EM4/MOL. Jika kompos terlalu basah, tambahkan sampah cokelat lagi

Tambahkan air atau cairan EM4/MOL jika diperlukan


6. Kompos Anda Siap Panen! 

Kompos yang sudah jadi akan siap dipanen dalam waktu 30 hari sejak lapisan pertama kompos dibuat. Anda akan memanen kompos melalui jendela/bukaan yang terletak dibagian bawah composting bag. Kompos tersebut nantinya bisa digunakan sebagai pupuk untuk tanaman atau digunakan kembali di proses pengomposan berikutnya sebagai sampah cokelat. 

Memanen kompos yang sudah jadi