Tips dan Trik Bisnis Internet, gratis...

Klub Bisnis Internet Berorientasi Action

Sabtu, 03 Maret 2012

Air Layering (Cangkok) pada Tanaman

 


Air Layering (Cangkok) 

 Pencangkokan adalah salah satu tipe perundukan, dimana akar terbentuk pada bagian tanaman yang masih berada di tanaman induknya. Pada perundukan tipe ini batang tanaman di kerat dan dibungkus dengan tanah. Batang tanaman akan dibiarkan selama beberapa minggu sampai membentuk akar.


Gambar 1. Perundukan dengan cara cangkok


Gambar 3 Perundukan tunggal (Simple Layering)


Perundukan tunggal dilakukan dengan cara membengkokkan sebuah cabang ke tanah, sebelumnya batang tersebut dilukai kemudian dimasukkan ke tanah dan ditutup dengan tanah atau media pengakaran, tetapi ujung terminal berada diatas tanah. Ujung dari cabang secara tajam dibengkokkan ke posisi tegak sekitar 6 sampai 10 cm jaraknya dari ujung. Pembengkokan yang tajam dari pucuk tersebut sangat penting untuk menginduksi pengakaran, meskipun manfaat tambahan dapat diperoleh dengan cara pemuntiran untuk melonggarkan kulit kayu. Pemotongan atau sedikit pelukaan di bagian bawah dari batang sering dilakukan. Metode lain yaitu, bagian yang bengkok dari pucuk selanjutnya disisipkan ke dalam tanah sehingga dapat ditutup pada kedalaman 3 sampai 6 cm. Pasak kayu, kawat yang dibengkokkan atau batu dapat digunakan untuk menjaga rundukan di tempatnya dan ajir kayu vertikal dapat ditancapkan di samping rundukan untuk menopang pucuk yang terekspose dan memegangnya tegak. Jika cabang relatif tidak lentur dan sulit untuk dibengkokkan, tegangan dapat dikurangi dengan cara melukai sedikit bagian atas dari pucuk pada bagian tertinggi dari bengkokan Waktu yang umum untuk perundukan adalah awal musim hujan, dan digunakan pucuk berumur satu tahun. Dipilih cabang-cabang yang rendah dan lentur dari tanaman yang dapat dengan mudah dibengkokkan ke tanah. Dalam beberapa hal cabang samping (suckers) yang dihasilkan di dekat mahkota tanaman dapat bertindak sebagai sumber pucuk untuk perundukan. Pengadaan rundukan berakar dapat dilakukan bertahun-tahun dengan cara membuat bedengan yang terdiri dari tanaman stock yang ditanam dengan jarak yang cukup lebar sehingga memungkinkan semua pucuk dirundukkan. Prosedur ini telah digunakan secara komersial untuk memperbanyak tanaman strawberry dan blackberry di Lembang dan Malang. Hasil penelitian Purba et al. (2017), perundukan pada tanaman Mucuna bracteata, dengan beberapa cara merunduk, merunduk 1 kali, 2 kali, 3 kali dan 4 kali, diatas maupun dibawah tanah tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan, jumlah bintil akar dan berta kering akar.

Perundukan Ujung Pucuk (Tip Layering) 
Pada tip layering, pengakaran terjadi di ujung pucuk yang dilukai dan dibengkokkan ke tanah. Ujung pucuk ditimbun dengan tanah, dijaga kelembabanya, dibiarkan beberapa minggu sampai keluar akar pada ujung pucuk yang dibenamkan tersebut. Setelah berakar, ujung pucuk dapat dipotong untuk ditanam menjadi tanaman mandiri.
Gambar 4 Perundukan pucuk (Tip Layering) (Rosie dan Dana, 1996) 


Ujung pucuk lateral lebih baik dirundukkan dengan tangan, sekop kecil digunakan untuk membuat lubang dengan satu sisi vertikal dan sisi lainnya miring ke arah tanaman induk. Ujung pucuk ditempatkan di dalam lubang dengan pucuk terletak sepanjang sisi miring dan tanah yang ditutupkan ditekan cukup padat. Dengan demikian ujung tidak dapat terus tumbuh memanjang dan menjadi seperti bentuk teleskop (telescoped) dan segera membentuk sistem perakaran yang banyak serta mengembangkan pucuk vertikal muda. Dengan cara ini hanya satu individu baru yang dihasilkan dari satu cabang. 
Ujung pucuk lateral lebih baik dirundukkan dengan tangan, sekop kecil digunakan untuk membuat lubang dengan satu sisi vertikal dan sisi lainnya miring ke arah tanaman induk. Ujung pucuk ditempatkan di dalam lubang dengan pucuk terletak sepanjang sisi miring dan tanah yang ditutupkan ditekan cukup padat. Dengan demikian ujung tidak dapat terus tumbuh memanjang dan menjadi seperti bentuk teleskop (telescoped) dan segera membentuk sistem perakaran yang banyak serta mengembangkan pucuk vertikal muda. Dengan cara ini hanya satu individu baru yang dihasilkan dari satu cabang. 
 
Perundukan Berganda (Compound or Serpentine Layering) 
Perundukan berganda prinsipnya sama seperti perundukan tunggal, pada perundukan berganda lebih dari satu titik tumbuh yang dibengkokkan kedalam tanah. Namun untuk perundukan berganda pada setiap bagian yang dibenamkan ke tanah harus mempunyai titik tumbuh di atasnya untuk membentuk tunas baru apabila sudah berakar dan siapkan dipisahkan dari induknya. Pada suatu cabang yang panjang hanya beberapa tempat di satu cabang yang ditutup tanah. Penutupan tanh berselang-seling, ada yang ditutup, ada yang dibiarkan pucuknya di atas tanah tidak ditutup. Setelah beberapa minggu cabang yang berada diatas tanah akan memunculkan tunas baru, sementara bagian yang ditutup tanah akan memunculkan akar baru. Umumnya, batang dilukai atau dikerat di bagian bawah dan ditutup dengan tanah seperti pada perundukan tunggal. Akar berkembang pada setiap bagian yang dibenamkan ini. Bagian yang dilukai dan dibenamkan kedalam tanah dari batang tersebut paling sedikit mengandung satu titik tunas yang akan berkembang menjadi pucuk. Setelah terbentuk akar, cabang tersebut dipotong pada bagian yang mempunyai pucuk baru dan mengandung akar baru. Beberapa tanaman baru dapat dihasilkan dari satu cabang. Metode ini digunakan untuk memperbanyak tanaman yang mempunyai pucuk panjang dan batang fleksibel seperti anggur.
Gambar 5 Perundukan Berganda (Compound or Serpentine Layering) 



Hasil penelitian Sumarni dan Jamal (2008), menunjukkan penggunaan metode pembiakan vegetative dengan merunduk, pada Piper miniatum pada ruas/ buku batang tua (R3) dengan media sekam menunjukkan waktu yang lebih cepat untuk tumbuh akar 2-4 minggu bila dibandingkan dengan cara setek dan cangkok. Kelebihan lainnya dengan merunduk adalah tidak memerlukan masa aklimatisasi untuk menjadi bibit.


Perundukan Horizontal (Trench Layering) 
 Perundukan horizontal atau larikan/parit adalah perundukan dengan merebahkan dan membenamkan cabang dengan posisi secara horizontal pada larikan tanah atau lubang yang dibuat memanjang (trench : parit kecil), rundukan cabang didasar lubang. Cabang yang berada didalam tanah dilukai untuk merangsang tumbuhnya akar dari dasar pucuk teretiolasi. Akar berkembang dari dasar pucuk baru ini. Pucuk cabang dengan beberapa lembar daun dibiarkan di atas permukaan tanah. Dari beberapa ruas cabang yang dibenamkan akan muncul tunas baru. Pada daerah empat musim (subtropis), ini dilakukan sebelum mulai pertumbuhan di musim semi. Tanaman dibengkokkan batangnya dan diletakkan mendatar pada dasar dari parit yang digali sepanjang barisan sedalam 6 cm dan cukup lebar untuk keseluruhan rundukan. Cabang-cabang lateral yang lemah dipotong sepanjang 2 cm dan cabang lateral yang kuat dipotong ujungnya. Pasak kayu dapat digunakan untuk menahan tanaman rundukan induk di tempatnya. Kawat pendek yang dibengkokkan berbentuk huruf U atau kawat yang lebih panjang seperti gantungan baju, bermanfaat untuk memegang pucuk-pucuk yang kecil. Adalah penting bahwa semua bagian dari pucuk mendatar sempurna pada dasar parit. Sebelum semua rundukan ditutup dengan tanah halus 5 cm atau media pengakaran seperti moss gambut, serbuk gergaji atau serutan kayu. 2 cm media tambahan ditambahkan pada saat pucuk yang sedang berkembang muncul dari lapisan tanah yang pertama tetapi sebelum daunnya mengembang. Beberapa tanah tambahan diberikan pada 2-3 minggu pertama dari Pengeratan dasar dari pucuk dengan cara mengikatkan kawat sekitar 6 minggu setelah mulai tumbuh akan memacu pengakaran pada banyak tunas tanaman. Ukuran sistem perakaran tanaman apel hasil penggundukan meningkat pada pucuk yang tumbuh.
Gambar 7 Perundukan dengan cara Gundukan (Mound atau Stool Layering) 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar